Mungkinkah menjadi ASN yang stoik?

Stoikisme kini menjadi aliran filsafat yang digandrungi banyak orang, terutama anak muda. Rak2 toko buku, halaman website, dan media sosial banyak dibanjiri rujukan dan percakapan. Ajaran Stoik telah berusia lebih dari 2000 tahun, dan tokohnya antara lain Zeno, Seneca, Epictetus, Dan Marcus Aurellius. Stoikisme menekankan pengendalian diri, terutama pada hal yang ada di bawah wilayah kontrol kita. Stoikisme juga sangat menekankan harmoni dengan alam. Hidup pada dasarnya keselarasan dengan semesta.

Ada empat prinsip utama stoikisme. Wisdom (kebijaksanaan), Courage (keberanian), Justice (keadilan), dan Temperence (keugaharian). Bijaksana dalam menyikapi kompleksitas hidup, berani bersikap dan menghadapi ketakutan dan tantangan, adil dalam memperlakukan sesama, dan ugahari yang tercermin dalam hidup yang terkendali dan pantas.

Jika hari2 ini kita diajak untuk hidup ala Stoik, tentu saja sah jika diajukan pertanyaan: mungkinkah ASN hidup ala Stoik? Jawaban tegas saya: mungkin, bahkan sangat mungkin. Bahkan dalam bahasa lugas, dinamika kehidupan sosial, ekonomi, politik saat ini telah menjadi lingkungan dan prakondisi bagi hidup ala Stoik.

Sikap bijaksana menjadi syarat utama. Di antara berbagai tegangan, tantangan, dan masalah yang dihadapi, toh para ASN mesti bijak. Ia adalah seorang birokrat yang harus netral, dalam arti imparsial, yaitu tak memihak atau menunjukkan preferensi di publik. Termasuk aspirasi pribadi atau kelompok. Sikap imparsial membuat mereka dapat melayani lebih adil dan mengambil kebijakan atau keputusan yang proper. Dengan demikian tindakan mereka harmonis dan terarah pada kepentingan bersama.

Keberanian juga akan diuji ketika menghadapi tantangan lapangan. Terlebih di Jakarta yang kompleks ini. Media sosial sering menjadi sarana melapor dan menuntut. Publik ingin semua masalah diselesaikan ‘seketika dan sekaligus’. Cara kerja hierarkis menjadi tak relevan lagi. Namun berani bukan identik dengan asal cepat. Tetap perlu kalkulasi matang. Lagi2 ajaran Stoik menjadi relevan. Tantangan tak dihindari, namun dipeluk dengan kesungguhan dan diatasi dengan solusi terukur. ASN Stoik lalu menemukan sikap yang tepat: sabar mendengarkan, telaten mendalami, dan terukur menanggapi.

Bersikap adil menjadi hal penting di pemerintahan. Bagaimana keputusan kita berdampak langsung pada hidup mati dan nasib banyak orang, tentu menjadi pertimbangan sejak awal. Semua orang sepakat bahwa sikap mesti adil, tetapi ketika ditanya apa itu adil, kita mulai bertengkar tentang definisi dan ukuran. Seorang ASN Stoik punya daya pertimbangan yang kokoh: perlakukan orang lain seperti engkau ingin dirimu diperlakukan. Kita diajak mengukur liyan bukan dengan ukuran kita. Keterarahan pada yang lain ini mengandaikan rasa empati yang tinggi. Dengan demikian tiap pelayanan publik tak sekadar diukur dengan indeks dan KPI, tapi juga hati.

Prinsip terakhir adalah ugahari. ASN adalah pelayan publik yang digaji dari uang pajak rakyat. Ada relasi timbal balik yang nyata: rakyat membayar pajak dan negara memberi perlindungan dan pelayanan. Di era kolonial, birokrat kerap disebut pangreh praja atau amptenaar, karena lekat dengan kuasa dan semena. Kini birokrat itu pamong praja, yang tugasnya melayani. Ugahari tak sekadar sikap hidup sederhana, tahu cara memantas diri, atau semata tak mencolok dan berlebihan. Namun paham mana haknya, sekaligus mengerti tanggung jawab dan kewajibannya.

Maka cukup terang, ASN sangat mungkin, bahkan perlu menjadi seorang Stoik, karena praktik sehari-hari menyajikan latihan untuk itu. Di Balai Kota Jakarta, saya merasakan denyut itu. Tiap hari kebijakan dirumuskan dan dirembuk, keluhan dan kekurangan diidentifikasi dan diupayakan teratasi. Ada kesadaran bahwa belum sempurna dan butuh perbaikan, juga butuh liyan. Dari Gubernur, Kepala Dinas, Kasudin, Camat, Lurah hingga PPSU di kelurahan diikat oleh semangat yang sama: melayani warga. Suara2 netizen adalah tanda percaya dan peduli. Tuntutan unjuk rasa tak perlu jadi gangguan, justru dirangkul dan dimusyawarahkan. Mengeruk kali, memungut sampah, menambal jalan, memadamkan api – sama pentingnya dengan menyusun Pergub, menghitung tukin, mengukur KPI, dan membina UMKM.

Barangkali yang dilakukan dan dideliver belum cukup memuaskan. Masih ada compang camping kekurangan. Tapi itulah hidup, justru menjadi undangan lebih baik. Menyelenggarakan pelayanan publik yang semakin dekat dengan hati rakyat, selaras dengan harmoni semesta, tak perlu berlagak jagoan dan menang sendiri, dan tulus mengangkat harkat yang paling kesrakat dan melarat. Itulah esensi hidup Stoik, tanpa perlu heroik. Dan saya merasakan aura itu muncul, mekar, dan menyebar. Dalam sikap serius, tulus, dan halus Pak Pram, gema ajakan hidup baik dari Zeno, Epictetus, dan Seneca itu hadir. Spirit kepemimpinan yang mengejawantah dalam tindakan dan keteladanan. Bersama ASN Jakarta, kita terus membangun dan menghadirkan suka cita, tawa, dan sejahtera bagi semua.

Pojokan GBK
4 Juli 2026

YP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *