Ada satu godaan yang selalu mengintai setiap upaya menulis “genealogi” sebuah konsep: godaan mengira bahwa menemukan asal-usul yang mengejutkan sama artinya dengan membongkar makna sesungguhnya. Genealogi, sejak Nietzsche hingga Foucault, selalu menjanjikan lebih dari sekadar sejarah — ia menjanjikan pembongkaran, semacam dakwaan terselubung: tunjukkan dari mana sesuatu berasal, dan engkau telah menunjukkan apa sesungguhnya ia. The Origins of Neoliberalism: Modeling the Economy from Jesus to Foucault karya Dotan Leshem (Columbia University Press, 2016) adalah contoh cemerlang dari godaan itu — dan, pada saat yang sama, contoh yang mengungkap batas-batasnya.
Ekonomi Sebelum Menjadi Ilmu
Tesis buku ini mudah diringkas, meski radikal dalam implikasinya. Kata “ekonomi” (oikonomia), jauh sebelum menjadi ilmu tentang produksi, distribusi, dan konsumsi, adalah istilah teologis. Ia lahir di ranah domestik Yunani kuno — pengelolaan rumah tangga, oikos — lalu, dalam lompatan yang jarang ditelusuri sejarawan pemikiran ekonomi maupun politik, direbut alih oleh para Bapa Gereja abad ke-2 hingga ke-5 untuk menjelaskan misteri Trinitas, inkarnasi, dan rencana keselamatan Allah. Rasul Paulus menyebut dirinya oikonomos, pengelola rahasia ilahi. Uskup-uskup awal menyebut kebohongan demi tujuan mulia sebagai oikonomia yang patut dikagumi, bukan penyimpangan. Gregorius dari Nyssa, pada abad keempat, untuk pertama kalinya dalam sejarah pemikiran Barat, membalik nilai pertumbuhan tanpa batas — dari tanda hybris yang dicurigai filsafat klasik menjadi satu-satunya jalan menuju stabilitas jiwa. Baru berabad-abad kemudian kata itu mendarat di tangan para ekonom politik sebagai “ekonomi” seperti yang kita kenal sekarang.
Leshem menulis buku ini sebagai jawaban langsung atas dua tokoh besar: Michel Foucault, yang dalam kuliah-kuliahnya di Collège de France melacak asal-usul governmentality modern ke pastoral power Kristen, tetapi berhenti pada sekularisasi abad keenam belas hingga ketujuh belas; dan Giorgio Agamben, yang dalam The Kingdom and the Glory mengoreksi Foucault dengan menggeser titik asal itu jauh lebih awal, ke perdebatan Trinitas abad kedua, sebelum Konsili Nicea. Leshem menggeser lagi jarum itu — bukan ke abad kedua, melainkan ke rentang antara Konsili Nicea (325) dan Konsili Kalsedon (451), saat model-model teologis tentang persekutuan ilahi dan persatuan dua kodrat dalam Kristus benar-benar matang secara konseptual, dan dari situlah, klaimnya, lahir cetak biru pertumbuhan tanpa batas yang kelak menjadi jantung neoliberalisme.
Kekuatan yang Sesungguhnya: Hukum Kanon, Bukan Analogi
Bagian paling meyakinkan dari buku ini, secara mengejutkan, bukan bab-bab yang paling ambisius secara filosofis, melainkan bab kelima — bagian paling teknis, paling berbasis hukum kanon konkret. Di situ Leshem menelusuri bagaimana kanon pertama Basil Agung menciptakan mekanisme legal yang memungkinkan otoritas gerejawi menyuspensi hukum kanon demi memasukkan orang-orang yang tadinya dianggap “di luar” — kaum skismatik dan heretik — ke dalam tubuh Gereja. Ia menyandingkan mekanisme ini dengan homo sacer Agamben, sosok yang hidupnya masuk tatanan hukum Romawi kuno hanya lewat pengecualiannya, dan menemukan sesuatu yang elegan: arahnya justru terbalik. Kedaulatan politik, kata Agamben, beroperasi lewat inklusi-eksklusif — membuang seseorang dari tubuh politik lewat suspensi hukum. Otoritas pastoral, tunjuk Leshem, beroperasi lewat eksklusi-inklusif — suspensi kanon justru memasukkan yang tadinya terkecualikan.
Lebih penting lagi, Leshem menunjukkan perbedaan struktural yang presisi dengan doktrin Carl Schmitt tentang keadaan darurat: bagi Schmitt, dalam pengecualian politik, norma hukum hancur, ditelan oleh momen keputusan yang otonom. Namun dalam kanon Basil, baik hukum kanon maupun otoritas pastoral tetap utuh sekalipun keduanya tak berhimpit — kesenjangan di antara keduanya hadir setiap saat, bukan hanya muncul dalam darurat, sehingga ruang pengecualian itu tak pernah merosot menjadi apa yang dikhawatirkan Agamben sebagai “zona tak terbedakan” antara norma dan pengecualian dalam demokrasi liberal kontemporer. Inilah genealogi pada bentuk terbaiknya: menunjukkan kemiripan sekaligus perbedaan dengan presisi tekstual, bukan sekadar menyamakan dua fenomena karena keduanya sama-sama menarik.
Kelemahan yang Berulang: Dari Kemiripan Bentuk ke Klaim Silsilah
Sayangnya, kehati-hatian metodologis Bab 5 tidak konsisten dijaga di bagian-bagian lain buku ini — terutama pada argumen sentralnya sendiri soal pertumbuhan. Ketika membahas perichoresis, relasi saling-meresap tanpa kehilangan keunikan antar-pribadi Trinitas, Leshem membacanya sebagai “cetak biru pertumbuhan tak terbatas”. Namun secara teologis, struktur “tak ada yang hilang dalam transkripsi diri Allah” lebih tepat dibaca sebagai plenitude — kepenuhan yang sudah utuh sejak awal — bukan akumulasi, yang secara definisi bergerak dari defisit menuju surplus. Ketika membahas epektasis Gregorius dari Nyssa, hasrat tak terpuaskan yang terus bertumbuh menuju Allah, Leshem menyamakannya dengan logika pertumbuhan kapital. Namun Gregorius sendiri menjelaskan mengapa hasrat itu tak pernah jenuh: karena objeknya — Allah — tak terhingga, sehingga jarak antara pencari dan yang dicari selalu tak terhingga pula. Ini radikal berbeda dari pertumbuhan kapital, yang justru beroperasi pada objek-objek terbatas dan karenanya membutuhkan mekanisme buatan untuk terus-menerus memproduksi kelangkaan baru.
Leshem tampaknya menyadari celah ini, dan mencoba menutupnya di bab keenam dengan satu klaim yang menanggung beban argumentatif jauh melampaui buktinya: bahwa pada akhirnya, menurut Gregorius, hasrat akan Allah yang tak terhingga itu sendiri berubah menjadi hasrat akan pertumbuhan demi pertumbuhan itu sendiri — objeknya lenyap, yang tersisa hanya imperatif formal untuk terus tumbuh, siap diisi konten apa pun di kemudian hari, termasuk akumulasi kapital. Klaim ini disampaikan sebagai parafrase, bukan kutipan langsung, dan menanggung beban pembuktian yang jauh lebih besar daripada yang disediakan teksnya sendiri.
Genealogi yang Mewarisi Penyakit yang Dikritiknya
Ironi terbesar buku ini adalah bahwa pola argumentatifnya justru mengulang pola yang menghubungkan seluruh silsilah pemikir yang ia kritik. Foucault menuduh sejarah standar berhenti terlalu dini, di ambang Pencerahan. Agamben menuduh Foucault berhenti terlalu dini, di abad keenam belas. Leshem menuduh Agamben salah tempat mencari asal-usul, di abad kedua alih-alih abad keempat. Setiap generasi mengklaim menemukan lapisan yang lebih dalam dan lebih awal, yang mendiskreditkan penjelasan generasi sebelumnya sebagai belum cukup radikal. Pola menggeser-mundur-titik-asal ini sendiri layak dicurigai sebagai gerakan retoris genealogis yang khas — dan pertumbuhan tak terbatas yang ingin dibongkar Leshem, secara mencolok, adalah persis logika yang menggerakkan genre genealogi itu sendiri: selalu ada lapisan lebih awal yang bisa digali, tak pernah ada titik final yang cukup.
Ini bukan alasan untuk mengabaikan kontribusi buku ini. Leshem berhasil menaruh kembali satu episode penting — patristik Yunani abad ke-2 hingga ke-5 — ke peta sejarah pemikiran ekonomi dan politik yang selama ini nyaris seluruhnya menghilangkannya, entah karena diklaim milik sejarah teologi semata, atau karena dianggap tak relevan bagi genealogi kekuasaan modern. Bagi pembaca yang akrab dengan tradisi Communio — Balthasar, Zizioulas, de Lubac — buku ini adalah provokasi yang produktif: ia memaksa pertanyaan apakah bahasa perichoresis dan epektasis yang mereka pakai untuk membangun ontologi personalis benar-benar imun dari pembacaan-ulang sebagai logika akumulatif, atau apakah imunitas itu perlu diargumentasikan secara eksplisit, bukan diasumsikan begitu saja.
Penutup: Nilai Genealogi yang Jujur pada Batasnya
Yang membedakan genealogi yang meyakinkan dari genealogi yang hanya memesona adalah kesediaannya mengakui perbedaan sama telitinya dengan kegembiraannya menemukan kemiripan. Bab kelima buku ini menunjukkan Leshem mampu melakukan itu — menyandingkan oikonomia pastoral dengan state of exception Schmitt dan Agamben sambil dengan jujur memetakan di mana keduanya berpisah jalan. Sayangnya, pada argumen paling ambisiusnya sendiri — silsilah dari epektasis patristik ke pertumbuhan neoliberal — kehati-hatian itu mengendur, digantikan kegembiraan menemukan kata yang sama dipakai untuk dua hal yang, pada pembacaan lebih dekat, cukup berbeda satu sama lain. The Origins of Neoliberalism pada akhirnya adalah buku yang paling berharga bukan sebagai jawaban final atas pertanyaan dari mana neoliberalisme berasal, melainkan sebagai undangan untuk mempertanyakan seberapa jauh kemiripan bentuk boleh dipercaya sebagai bukti kesamaan makna — pertanyaan yang, pada akhirnya, berlaku sama kerasnya bagi metode genealogis itu sendiri.