Minggu lalu kami nonton film Toy Story 5. Saya ajak anak2 dan keponakan. Film ini sangat bagus sebagai kritik terhadap dunia bermain yang serba digital dan jarang membuat anak menjadi lebih egois dan individualistik. Hakikat manusia adalah homo ludens, makhluk yang kodratnya bermain, kata Johan Huizinga, sejarawan dan teoritikus budaya.
Bermain, yang mestinya penuh kegembiraan, berubah jadi kecemasan dan keterasingan. Fungsi kinetik tubuh yang dulu terlatih karena rajin bergerak lama2 menjadi kaku, ringkih, dan tak responsif. Bisa jadi akan berujung kada rendahnya kepekaan dan renggangnya relasi sosial.
Film ini mengingatkan kita pada peringatan psikolog sosial Jonathan Haidt di bukunya The Anxious Generation. Anak2 yang terpenjara dunia digital perlu dimerdekakan dg perjumpaan2 ragawi. Jauh sebelumnya sosiolog Emile Durkheim mengingatkan anomie sebagai gejala masyarakat modern, akibat runtuhnya moral kolektif sebagai dampak modernitas yang ditandai dengan industrialisasi, pembagian kerja, dan kemajuan teknologi.
Robert Putnam di buku Bowling Alone juga pernah mengkhawatirkan tergerusnya modal sosial masyarakat Amerika. Gejala yang tampak pada semakin susutnya ruang publik dan intensitas perjumpaan sosial. Masyarakat menjadi atomistik dan berisiko melemahkan daya tahan negara yang alasan berdirinya adalah cita-cita bersama.
PP Tunas yang diinisiasi Komdigi menjadi salah satu harapan penggembalaan dunia digital dan medsos yang makin memprihatinkan. Semoga dengan hadirnya negara melakukan pembatasan disertai penyediaan sarana bermain fisik yang memadai. Modal sosial ini perlu terus dirawat dan dipupuk.
Saya jadi nyambung dengan gagasan Mas Pram memperbanyak ruang terbuka publik, antara lain lewat taman. Juga pemanfaatan ruang terbuka bawah tol untuk sarana olahraga massal dan urban farming. Bang Doel juga amat getol untuk dua hal: semakin hadirnya budaya Betawi di ruang publik dan Jakarta sebagai Kota Sinema.
Saya jadi paham gagasan brilian Gubernur dan Wagub DKI ini. Modal sosial itu perlu dipupuk dg perjumpaan otentik. Itu hanya mungkin jika difasilitasi. Dan saat bersamaan imajinasi harus terus dihidupkan. Dan film adalah instrumen pembangkit imajinasi paling efektif.
Dan di balik dua hal itu, ekonomi rakyat turut bergerak. Warga punya medium untuk terlibat. Tak sekadar jadi penonton tapi sekaligus aktor. Ekonomi sirkuler yang berdenyut seiring kehidupan keseharian warga. Ini terkesan utopis. Namun kerja2 lapangan yang telaten dan bergerak dari akar rumput membuktikan cita2 ini sangat mungkin terwujud.
Semalam Jakarta Film Commision diluncurkan. Inilah ekosistem dunia perfilman Jakarta yang kelahirannya dinanti banyak orang. Taman Bendera Pusaka semakin ramai sebagai pusat aktivitas warga. Lalu Rasuna Said jadi rapi dan cantik. Kawasan JIS-Ancol terhubung. Menyusul Blok M, Kota Tua dan Pasar Baru akan direvitalisasi. Semuanya dihubungkan dengan transportasi publik yang semakin terintegrasi.
Jakarta Kota Global semestinya memang bukan slogan belaka. Ia harus terus menggendong paradoks: makin global sekaligus kuat berakar lokal. Punya gedung pencakar langit dan tetap menapak di parit dan trotoar. Menjadi pusat keuangan dan pedagang kaki lima. Semua berhak hidup berdampingan.
Tugas Pemerintah menjamin kehidupan sosial yang sehat, maka yang miskin dibantu, yang kayak berbagi. Pajak menjadi alat pemerataan: yang lebih mampu bayar lebih tinggi, tapi saat bisnis terganggu stimulus negara diberi. Dan di balik semua itu, kepemimpinan menjadi kunci. Kesanggupan memasung ego, rendah hati, membuka diri pada koordinasi, dan tak tipis telinga pada kritik dan aspirasi. Syukur2 teduh mengayomi.
Dirgahayu Jakarta! Makin digdaya dan menawan. 🔥💪🇮🇩