Ada hari ketika kita pulang dalam keadaan lelah, pekerjaan belum selesai, tetapi hati terasa penuh. Seorang guru baru saja membantu murid memahami pelajaran yang berkali-kali membuatnya menyerah. Perawat berhasil menenangkan pasien yang ketakutan. Seorang pegawai mendampingi warga mengurus dokumen yang selama ini terasa seperti teka-teki. Tidak ada tepuk tangan. Besok pekerjaan akan menumpuk lagi. Namun hari itu terasa layak dijalani.
Pengalaman semacam ini mengusik kebiasaan kita menempatkan kebahagiaan di ujung perjalanan. Bahagia setelah naik jabatan, anak berhasil, usaha berkembang, atau perjuangan mendapat pengakuan. Kita seperti terus menunggu pengumuman kelulusan dari kehidupan. Padahal, boleh jadi kebahagiaan sudah ikut duduk bersama kita sepanjang perjalanan, hanya luput disapa karena kita sibuk memandangi garis akhir.
Tentu, tidak semua yang bermakna terasa menyenangkan. Merawat anggota keluarga yang sakit bisa menguras tenaga. Menolak permintaan yang tidak patut dapat merusak hubungan. Mengatakan yang sebenarnya kadang membuat posisi kita tidak nyaman. Meski begitu, kita tetap memilihnya karena ada sesuatu yang layak dijaga. Rasa lelah dan rasa syukur bisa tinggal serumah.
Di sinilah kesenangan dan kebahagiaan perlu dibedakan. Kesenangan sering hadir sebagai pengalaman sesaat. Kebahagiaan dapat mencakup penilaian yang lebih utuh: apakah kehidupan yang kita jalani pantas kita iyakan? Kita bisa menikmati akhir pekan tanpa banyak memikirkan makna. Namun kita juga bisa menemukan kepenuhan ketika melakukan sesuatu yang berat, karena memahami untuk siapa dan untuk apa kita melakukannya.
Dalam bahasa sehari-hari, barangkali begini: capek, tetapi tidak sia-sia.
Filsafat membantu menjelaskan pengalaman yang sebenarnya cukup akrab ini. Immanuel Kant menekankan pentingnya bertindak karena kewajiban moral. Ada hal yang patut dilakukan sekalipun tidak menguntungkan kita. Menghormati martabat seseorang, misalnya, tidak perlu menunggu suasana hati membaik. Orang yang sedang kesal tetap berkewajiban memperlakukan sesamanya dengan hormat.
Aristoteles mengajak kita melihat kehidupan secara lebih menyeluruh. Melalui kebiasaan bertindak, kita membentuk diri. Kejujuran yang dipraktikkan berulang kali menumbuhkan pribadi yang jujur. Keberanian yang dilatih membuat kita lebih mampu menghadapi keadaan sulit. Kebahagiaan, dalam pengertian eudaimonia, berhubungan dengan kehidupan yang berkembang baik melalui kegiatan yang berkeutamaan.
Keduanya berbeda dalam dasar pemikiran. Namun bagi kita yang sedang menjalani pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, ada perjumpaan yang menarik. Kita mengerjakan sesuatu karena menyadari kewajiban, lalu melalui kesetiaan mengerjakannya kita membentuk karakter. Yang semula terasa sebagai tuntutan perlahan dapat kita hayati sebagai bagian dari diri.
Seorang guru wajib mengajar dengan sungguh-sungguh. Dalam perjalanan, kesungguhan itu bisa tumbuh menjadi kecintaan pada pendidikan. Seorang ASN berkewajiban melayani warga secara adil. Ketika keadilan menjadi kebiasaan, ia mulai merasakan kepuasan karena dapat dipercaya. Begitu pula pedagang yang menjaga timbangan, jurnalis yang memeriksa fakta, atau politisi yang berani menjelaskan keputusan yang tidak populer. Pengabdian memiliki banyak alamat.
Ini tentu tidak berarti orang baik pasti hidup bahagia. Aristoteles pun mengakui pentingnya kondisi di luar diri bagi kehidupan yang baik. Penyakit, kemiskinan, kehilangan, dan ketidakadilan dapat melukai siapa saja. Kita perlu berhati-hati agar pujian terhadap keteguhan tidak berubah menjadi tuntutan supaya orang yang menderita selalu tersenyum.
Namun penderitaan juga tidak otomatis menghapus makna seluruh perjalanan. Orang tua yang tidak sempat menyaksikan keberhasilan anaknya telah mengalami kebersamaan ketika membesarkan mereka. Seorang perintis mungkin tidak menikmati hasil perubahan yang diperjuangkannya, tetapi dapat menemukan kepenuhan dalam persahabatan dan kesetiaan pada pekerjaan itu. Nilai hidupnya tidak harus menunggu disahkan oleh hasil terakhir.
Di titik ini, Stoisisme memberi bekal yang berguna. Epictetus mengingatkan adanya perbedaan antara pilihan serta pertimbangan kita dan hal-hal yang tidak berada dalam kendali kita. Kita dapat menjaga kejujuran, kesungguhan, dan mutu keputusan. Kita tidak dapat memastikan seluruh reaksi orang, pengakuan publik, atau keberhasilan akhir.
Bagi ASN, politisi, dan pejabat, pembedaan ini menolong menjaga pegangan ketika penghargaan tidak datang atau keputusan baik disalahpahami. Bagi dokter, pengusaha, pekerja sosial, dan orang tua, pelajarannya serupa: kerjakan bagian yang menjadi tanggung jawab kita dengan sungguh-sungguh, sambil mengakui keterbatasan kuasa kita atas kehidupan.
Tetapi ada jebakan. Kalimat “itu di luar kendali saya” mudah menjadi tempat bersembunyi. Masalah yang tidak mampu kita selesaikan sendiri mungkin dapat diatasi melalui kerja bersama. Pegawai yang tidak memiliki kewenangan memperbaiki sistem masih bisa mencatat masalah, mengusulkan perubahan, dan mencari dukungan. Keterbatasan pribadi perlu dibaca bersama kemungkinan tindakan kolektif.
Karena itu, gagasan ASN Stoik yang pernah saya ajukan bertumpu pada latihan kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan keugaharian. Menimbang persoalan dengan jernih. Berani menyampaikan fakta yang tidak menyenangkan. Memperlakukan warga secara patut. Membatasi keinginan menggunakan jabatan demi kepentingan sendiri. Latihan yang sama juga relevan di ruang kelas, rumah sakit, tempat usaha, dan keluarga.
Ada latihan sederhana yang bisa dicoba menjelang pulang: siapa yang hari ini terbantu oleh pekerjaan saya? Apakah saya memperlakukan orang dengan patut? Apa yang perlu saya perbaiki besok? Pertanyaan seperti ini membantu kita melihat hubungan antara rutinitas dan tujuan yang lebih besar. Laporan tetap harus diselesaikan; orang yang kehidupannya dipengaruhi laporan itu juga perlu tetap terlihat.
Tentu, perasaan bermakna tidak membebaskan kita dari tanggung jawab atas hasil. Seorang pejabat tidak cukup mengatakan sudah bekerja dengan hati jika kebijakannya terus merugikan warga. Seorang guru perlu memeriksa apakah muridnya belajar. Mencintai proses berarti bersedia mengevaluasi cara bekerja, mengakui kekeliruan, dan mencoba pendekatan yang lebih baik.
Begitu pula organisasi. Kita tidak bisa terus meminta orang berintegritas sambil membiarkan kejujuran menghambat karier. Guru membutuhkan dukungan mengajar. Tenaga kesehatan membutuhkan kondisi kerja yang layak. ASN membutuhkan pimpinan yang bersedia menerima kabar buruk. Keteguhan pribadi lebih mudah tumbuh ketika institusi ikut merawatnya. Pengabdian tidak seharusnya mengharuskan seseorang habis terbakar.
Pada akhirnya, hidup baik dapat dihayati melalui kewajiban yang kita terima dengan sadar dan kebiasaan yang kita rawat. Ada tujuan yang belum tercapai, ada hasil yang mengecewakan, dan ada pekerjaan yang akan diteruskan orang lain. Namun sepanjang perjalanan, kita dapat mengalami bahwa hidup ini berguna dan pantas dijalani.
Mungkin malam ini persoalan belum selesai. Besok kita masih harus mencoba lagi. Tetapi ada seseorang yang hari ini merasa didengar, terbantu, atau diperlakukan lebih manusiawi karena kehadiran kita. Di dalam pengalaman sederhana itu, kebahagiaan sudah memperoleh tempat. Kita boleh mengenalinya sekarang.