Otak dan Dengkul

Khotbah Romo Antonius Yakin Ciptamulya di misa pagi tadi di Gereja Kranggan ringkas sekaligus bernas. Jika selama ini otak diagung-agungkan, bahkan untuk mereka yang bodoh kadang diolok-olok dengan “otak di dengkul”, kali ini Injil justru menegaskan pentingnya kolaborasi otak dan dengkul. Beliau mengutip Kardinal Tagle. Saya elaborasi ya.

Para Majus itu tidak hanya orang pintar, kaum cerdik pandai, tetapi sekaligus orang2 praktis. Yang sigap bertindak setelah otak memperoleh informasi.

Kita kerap berhenti pada aspek kognitif, agama dan iman jatuh pada olah pikir, bahkan kadang spekulatif. Semua hal mesti dinalar dan ditemukan jawabannya, hingga tak menyisakan ruang bagi misteri. Manusia rawan jatuh ke kesombongan intelektual.

Di sisi lain, ada yang malas berpikir dan menggunakan daya pertimbangan. Yang diutamakan emosi. Seolah sisi afektif belaka yang menjadi ekspresi iman. Jatuhnya mudah melow, mengiba, hanyut dan larut dalam emosi sampai lupa dimensi praksis dari iman. Agama jadi kesalehan individual dan klenik.

Otak, hati, dan dengkul ternyata satu kesatuan. Dengkul memungkinkan dimensi kebertubuhan yang melengkapi aspek kongnitif dan afektif. Iman yang sekaligus menggunakan nalar, rasa, dan tindakan. Iman itu kinetik, bergerak. Begitu dipanggil jawabannya adalah tindakan.

Seperti Maria yang berkunjung ke Elizabeth, atau Yesus yang menghampiri mereka yang miskin, sakit dan terpinggirkan. Atau, Sang Sabda yang menjadi manusia. Dan hari ini, para Majus yang menjawab panggilan dengan pergi mencari bayi Yesus.

Selamat bergerak menjawab panggilan Tuhan. Tampaknya tema Natal 2024 pun sangat relevan: Marilah (ajakan, proaktif) sekarang (tak perlu menunggu sempurna) kita (ciri sosial-inklusif) pergi (bertindak, transformatif) ke Betlehem (tempat yg diremehkan, kecil, miskin, pinggiran).

Selamat hari Minggu,
Tuhan memberkati.
Salam hangat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *