Saya adalah orang Indonesia, Jawa, dan Katolik. Menjadi Jawa dan Indonesia bukanlah sebuah kebetulan. Saya sungguh bersyukur menjadi seorang Katolik yang lahir dan besar di lingkungan majemuk, yang multikultur, di tengah Islam yang ramah. Ayah saya tujuh bersaudara, empat Muslim, tiga Katolik. Ibu saya enam bersaudara, empat Muslim dan dua Katolik. Katolisitas saya dibentuk dan disempurnakan oleh perjumpaan otentik ini.
Sejak kecil kami dididik hidup rukun berdampingan, mengakui sekaligus mensyukuri perbedaan. Satu adik Ibu saya sejak umur enam tahun tinggal bersama kami, seorang Muslim. Juga satu keponakan Bapak, seorang Muslim sangat taat, pernah tinggal bersama kami. Dari dia kami mengenal sholat lima waktu, yang kadang ritualnya kami ikuti, sesekali kami bercanda lepas. Bahkan hingga bangku SD, kami terbiasa mengikuti pelajaran Agama Islam yang diampu Pak Muslimin.
Tradisi Lebaran amat lekat dalam benak dan tata nilai pribadi saya. Kami di kampung terbiasa ikut meramaikan tarawih di mushala desa, karena di sana banyak jajanan kampung, terutama es kolak dan rondo royal mbah Kromo yang legendaris. Berlanjut ke malam takbiran yang gempita, disambut dengan perarakan antardesa. Puncaknya adalah Lebaran, Hari Raya Idul Fitri.
Usai sholat Ied, saya bergabung dengan remaja masjid yang bersiap ujung, silaturahim bersama dari rumah ke rumah, dimulai dari tokoh tertua di desa. Kami sungkem dan berjabat tangan. Ada rasa lega dan haru sekaligus riang. Jika beruntung ada warga perantau yang mudik, kami biasanya mendapat angpau. Setidaknya ada kaleng Khong Guan tersaji, sebuah kemewahan masa kecil yang kini terasa menggelikan.
Saya dibesarkan di dusun kecil, di mana mushala dan kapel berdampingan dalam arti sesungguhnya. Tiap hari raya, entah Natal atau Lebaran, kami saling menjaga, saling mengucapkan selamat dan mengundang hadir di perayaan, hingga kini. Desember kemarin, kami merayakan Natal dan reunian sebagai generasi ketiga di kampung. Menjumput ingatan masa lalu agar tak lupa asal usul.
Hari ini rumah Ibu mendapat giliran menjadi tuan rumah Syawalan. Tradisi Halal Bihalal keluarga besar yang sudah berlangsung sejak saya kecil. Sayang saya tak bisa pulang karena telanjur punya rencana lain. Biasanya Ibu masak besar, menyembelih ayam kampung hasil peternakan sendiri untuk opor. Lalu kami makan bersama dengan penuh syukur bahagia.
Kapel di kampung itu bukan sekadar tempat ibadah. Sejak saya kecil, tempat mungil nan sederhana itu sudah kami gunakan untuk berbagai aktivitas, terutama belajar bersama. Saya dulu biasa mengumpulkan anak2 kampung, memberi les gratis, dan latihan mengerjakan soal sekolah. Atau berbagi bacaan2 anak yang kami peroleh dari sumbangan mahasiswa KKN. Itu berlangsung tahunan, saat kami belum mengenal internet dan media sosial. Hidup terasa begitu penuh. Perjumpaan ragawi, persahabatan yang intim, dan saling mendengarkan dengan tulus.
Kini hidup beragama terasa formal dan terlalu serius. Apa yang dulu cair tanpa sekat, sekarang kerap dikapling “kami dan mereka”. Seolah di luar itu tak tersisa keselamatan. Tuhan yang maha kuasa dikerangkeng dalam klaim2 eksklusif. Padahal dulu surga neraka pun amat dekat dan akrab, namun bukan karena dogma atau ceramah, melainkan buah hidup rukun damai. Saya rindu pada masa lalu yang sederhana dan menenteramkan itu.
Natal lalu dan Lebaran kali ini saya merasakan aura yang berbeda. Ada rasa damai dan kebersamaan yang lebih kuat. Di Jakarta, setidaknya karena jarak yang cukup dekat, saya turut menjadi saksi Mas Pram dan Bang Doel mengorkestrasi dimensi kehidupan beragama sebagai realitas sosial yang layak disyukuri bersama. Tanpa perlu masuk pada dimensi teologis yang kadang bikin tegang, hari besar keagamaan disulap menjadi arena perjumpaan sosial yang otentik. Perayaan yang khas Indonesia, untuk merenungkan makna mengada, sebagai orang beragama dan orang Indonesia. Bukan sebagai kebetulan tapi keniscayaan identitas multikultur yang memanggul tugas sejarah.
Mulai dari Christmas Carol Colossal, Semarak Imlek, Jakarta Ramadhan Festival, Cap Go Meh, Pawai Ogoh2, Malam Takbiran hingga Eid Mubarak Jakarta, saya merasakan getar masa lalu yang kembali hadir. Keragaman itu tak ditutupi demi kerukunan yang semu. Justru dihadirkan secara terang dan penuh sukacita untuk diakui dan dipeluk bersama. Hanya dengan cara itu kita sungguh meneguhkan identitas dan makna menjadi Indonesia.
Perjumpaan dan interaksi ragawi yang oleh Jonathan Haidt, psikologi sosial ternama, ditawarkan sebagai obat mujarab bagi penyakit psikososial yang diakibatkan media sosial dan relasi virtual. Waktu ternyata tak ke mana2. Ia tak melaju seperti klaim pemuja modernitas. Ia hanya berputar dan kita kembali ke titik saat masa lalu membentuk kita. Perayaan Lebaran lantas menjadi anamnesis, mengenang sekaligus menghadirkan kembali peristiwa masa lalu. Aktualitasnya ditaruh di pundak kita sebagai makhluk sejarah, yang bisa melawan waktu dan himpitan kemajuan teknologi yang menjajah hampir semua sudut hidup kita.
Dengan memperlakukan nostalgia bukan sekadar sebagai ritual sambil lalu, melainkan momen pengingat asal usul dan ke mana kita hendak menuju, Lebaran selalu menarik, penting, dan perlu. Ia sungguh menjadi titik temu kemanusiaan dan keilahian yang merawat harapan. Selamat Lebaran!