Saya masih berusaha mencerna dan memahami corak dan arah kebijakan Trump. Di luar analisis arus utama, saya tertarik dg analisis Susan Watkins, chief editor New Left Review, tentang corak kepemimpinan Trump. Saya akan bahas analisis Watkins di kesempatan terpisah. Saya akan meminjam beberapa cara pandangnya yang unik dan khas, sebagai kritik Kiri.
Meminjam Watkins, Trump menggunakan tarif sebagai salah satu instrumen untuk memulihkan hegemoni AS. Jadi Trump menggunakan perangkat ekonomi sebagai senjata politik. Ekonomi adalah sarana, politik menjadi tujuan. Trump sedang memporakporandakan tatanan dan konsep2 lama mengenai hubungan internasional, hegemoni moral Barat, dan imperialisme liberalistik. Eropa, bagi Trump, terlalu lama bergantung pada AS tapi lagaknya kayak tuan moralitas. Ini tidak fair.
Menurut Watkins, Trump lebih banyak omong besar tapi tindakannya terukur. Berbeda dengan Obama dan Biden yang menggunakan pendekatan mikro dan tindakannya mencerminkan yang diucapkan. Trump adalah pebisnis yang cenderung mirip keyakinan Montesqueieu tentang doux commerce, bahwa perdagangan menciptakan perdamaian. Pragmatisme Trump ini seolah menegaskan pendekatan ideologis lama sudah usang (kapitalisme vs sosialisme, liberalisme vs komunisme, bahkan kini demokrasi liberal/neoliberalisme vs populisme).
Cara Trump menghardik Eropa secara lugas, menekan China seraya merangkul Rusia, pendekatan transaksional untuk krisis Timur Tengah – adalah bukti nyata ia sedang membangun kembali hegemoni AS. Dan tarif resiprokal adalah cara Trump memaksa negara2 lain bernegosiasi. Teorinya tak njlimet, hitungan2nya mungkin simplistik, tapi tampaknya cara ini manjur.
Banyak negara sudah menyatakan diri utk bernegosiasi dan siap menurunkan tarif impor atas barang dari AS. Kepentingan ekonomi menjadi prioritas utama, seolah menegaskan tesis Marx bahwa urusan basis (relasi ekonomi) menentukan corak suprastruktur (relasi politik). Trump tampai piawai.
Tentu kita mesti menunggu babak selanjutnya dari gebrakan Trump ini, yang oleh Watkins disebut sebagai patahan (rupture), bukan kesinambungan pendekatan ekonomi-politik Barat. Lantas apa yang bisa dan mesti dilakukan Indonesia?
Tanpa berpretensi menjadi pengamat sungguhan, saya berpendapat Indonesia mesti membaca arah dan corak kebijakan Trump sebagai tantangan dan peluang. Kita mesti mengemas dalam satu tarikan nafas dimensi ekonomi dan politik. Pertama, sinyal policy yang responsif, lentur, dan selaras dengan dinamika global. Tidak membuat policy yang kontra-intuitif dan keluar dari jalur. Terlalu berisiko dan bisa berdampak sistemik.
Kedua, sinyal kepastian hukum dan tata kelola yang baik. Bagaimana Indonesia perlu meyakinkan berinvestasi di Indonesia utk menguntungkan, aman, dan nyaman. Tentu ini butuh fakta keras, mulai dari kualitas legislasi, implementasi yang baik dan konsisten, serta sikap proaktif dan melayani.
Ketiga, segera menyisir, memetakan, dan menyelesaikan berbagai hambatan bisnis yang konkret dikeluhkan investor dan pelaku usaha. Ini hanya butuh kemauan politik, tapi risikonya akan merugikan para pemburu rente. Rezim perizinan/kuota impor, restriksi berdalih keberpihakan domestik seperti TKDN, SNI, sertifikasi dll, dan mata rantai birokrasi yang kerap bekerja seperti siluman, timbul tenggelam tak menentu.
Lepas dari itu semua, dari perspektif Watkins, kita mesti bersiap utk perubahan konstelasi tata ekonomi-politik global. Sejauh mana kita tegak secara ideologi? Jelas dari sisi visi? Terukur dalam detail misi dan program? Hari2 ini adalah ujian terberat bagi kepemimpinan politik. Kepiawian membuat jargon dan narasi mesti ditopang kecakapan orkestrasi. Kemampuan menggunakan mata elang mesti dipadukan dengan ketrampilan dan ketelatenan kerja detail di lapangan.
Saya hanya awam yang mencoba ikut berpikir. Belum sepenuhnya paham. Namun hari2 ini pengakuan sebagai pemula abadi rasanya jauh lebih baik ketimbang mendaku sebagai pakar, ahli, atau yang paling paham.