“Peradaban tidak runtuh ketika mesin mulai berpikir, tetapi ketika manusia berhenti berpikir karena mempercayakan penilaiannya kepada mesin.”
Pendahuluan
Setiap zaman menggendong kegelisahannya sendiri tentang apa arti menjadi manusia. Zaman kita ditandai oleh kehadiran akal imitasi yang, dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menggeser batas antara yang dikerjakan manusia dan yang didelegasikan kepada mesin. Esai ini hendak menautkan empat simpul pemikiran: kritik Jacques Ellul atas la technique sebagai sistem yang mengklaim otonominya sendiri; tawaran antropologi teologis dalam ensiklik Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas; pertanyaan etis mengenai kerja di hadapan otomatisasi kognitif; dan ancaman epistemik AI terhadap kehidupan demokratis. Keempatnya, dibaca dalam satu tarikan napas, menyingkap satu pertanyaan tunggal: apakah martabat manusia dapat dipertahankan ketika sistem teknis semakin mengklaim otoritas atas apa yang dahulu menjadi wilayah eksklusif penilaian, pekerjaan, dan kebenaran manusiawi. Pada bagian akhir, esai ini juga menimbang kritik ekonom Daron Acemoglu terhadap Magnifica Humanitas, bahwa ensiklik itu meski benar dalam diagnosisnya, namun belum cukup jauh menyentuh pertanyaan desain institusional AI untuk menunjukkan bahwa argumen ontologis-teologis dan argumen institusional-ekonomi sesungguhnya saling melengkapi, bukan berlawanan.
La Technique: Ketika Sistem Mengklaim Otonominya Sendiri
Jacques Ellul, filsuf masyhur yang menggumuli isu teknologi, dalam La Technique ou l’enjeu du siecle (1954), tidak berbicara tentang mesin-mesin tertentu melainkan tentang la technique sebagai fenomena totalisasi: kecenderungan segala bidang kehidupan: ekonomi, hukum, pendidikan, bahkan kehidupan batin, untuk diorganisasikan menurut logika efisiensi dan optimalisasi. Bagi Ellul, teknik bukan sekadar alat netral yang dipakai manusia untuk tujuannya sendiri. Teknik telah menjadi milieu, lingkungan hidup baru yang menggantikan alam, dan di dalamnya manusia tidak lagi menjadi subjek yang menggunakan tetapi objek yang disesuaikan. Jasa besar Ellul adalah membongkar klaim netralitas teknologi yang kerap diandaikan dan membahayakan.
Ciri penting sistem teknis, menurut Ellul, adalah otomatisme: begitu sebuah kemungkinan teknis tersedia, ia cenderung diwujudkan, terlepas dari pertanyaan apakah ia baik secara moral. Efisiensi menjadi kriteria tunggal yang menggantikan pertimbangan-pertimbangan lain. Akal imitasi generatif adalah bentuk paling mutakhir dari logika ini: ia tidak hanya mengotomatisasi tenaga fisik seperti mesin industri, tetapi mulai mengambil alih wilayah yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir kekhususan manusiawi: bahasa, penilaian, bahkan penalaran moral. Pertanyaannya bukan lagi “dapatkah mesin ini menggantikan otot manusia” tetapi “dapatkah sistem ini menggantikan penilaian manusia” dan, yang lebih genting, “apakah kita masih sanggup mempertanyakan sebelum mengizinkannya?”
Magnifica Humanitas: Martabat sebagai Batas Teknis
Ensiklik Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV menawarkan bingkai antropologi teologis yang secara langsung berhadapan dengan kegelisahan Ellul, meski dari arah berbeda. Jika Ellul mendiagnosis dari luar sebagai kritikus sosiologis sistem teknis, Magnifica Humanitas menegaskan dari dalam tradisi ressourcement bahwa martabat manusia berakar pada imago Dei atau citra Allah, pada kenyataan bahwa manusia diciptakan sebagai subjek yang berakal budi dan berkehendak bebas, bukan sekadar simpul pemrosesan informasi yang dapat direplikasi.
Dalam kerangka ini, akal budi manusia bukan semata kapasitas kalkulatif yang dapat ditandingi atau dilampaui oleh sistem komputasi yang lebih cepat. Akal budi manusia bersifat personal, ia menyatu dengan kehendak, dengan tanggung jawab moral, dengan kemampuan mencintai dan dicintai. Di sinilah analogia entis menjadi relevan: kecerdasan buatan dapat meniru pola bahasa dan bahkan pola penalaran, tetapi peniruan ini tidak setara secara ontologis dengan ipsum esse manusia sebagai pribadi yang berelasi. Kekeliruan kategoris paling berbahaya di zaman ini adalah mengukur martabat manusia dari kinerja fungsionalnya, seolah nilai seseorang berbanding lurus dengan seberapa efisien ia dapat digantikan atau tidak digantikan oleh sistem. Di titik ini, Magnifica Humanitas berkontribusi memulihkan ciri khas manusia dalam semesta diskursus tentang teknologi dan kemajuan.
Kerja dan AI: Homo Faber di Hadapan Otomatisasi Kognitif
Tradisi ajaran sosial Gereja Katolik, sejak Rerum Novarum hingga Laborem Exercens, selalu menempatkan kerja bukan sekadar sebagai fungsi produksi melainkan sebagai wahana martabat manusia. Kerja adalah cara manusia mengambil bagian dalam karya penciptaan dan mengaktualisasikan dirinya sebagai homo faber. Karenanya, ancaman AI terhadap kerja bukan sekadar ancaman ekonomis seperti hilangnya lapangan kerja, melainkan ancaman antropologis. Jika kerja adalah wahana martabat dan sarana manusia mewujudkan potensi diri yang utuh, maka penggantian kerja secara masif oleh sistem otomatis berisiko mencabut salah satu ruang paling mendasar tempat manusia mengalami dirinya sebagai subjek yang berkontribusi, bukan objek yang dikelola.
Di sinilah kritik Ellul dan antropologi Magnifica Humanitas bertemu pada satu titik praktis: keduanya menolak logika yang memandang efisiensi sebagai nilai tertinggi tanpa mempertanyakan apa yang dikorbankan untuk mencapainya. Pertanyaan etis yang mendesak bukan “apakah AI dapat menggantikan pekerjaan tertentu?” Jawabannya, secara teknis, sering kali ya, melainkan “pekerjaan macam apa yang seharusnya tetap menjadi milik manusia, bukan karena manusia lebih efisien di dalamnya, tetapi karena pekerjaan itu adalah salah satu tempat manusia menjadi dirinya yang utuh.”
Tanggapan Kritis Daron Acemoglu: Dari Diagnosis Teologis ke Desain Institusional
Salah satu tanggapan paling substantif terhadap Magnifica Humanitas datang bukan dari kalangan teolog, melainkan dari ekonom peraih Nobel, Daron Acemoglu, lewat tulisannya di X dan Project Syndicate akhir Mei 2026. Acemoglu menyambut baik intervensi Paus Leo XIV, terutama pengakuan bahwa teknologi tidak pernah netral karena selalu mengambil watak dari pihak yang merancang, mendanai, mengatur, dan memakainya, serta kritik terhadap penggunaan AI dalam peperangan dan pengawasan massal. Namun, menurutnya, ensiklik itu berhenti tepat sebelum pertanyaan paling menentukan: desain macam apa yang seharusnya dituju oleh pengembangan AI itu sendiri.
Inti kritik Acemoglu menyasar filosofi desain yang mendominasi industri AI saat ini, yaitu dorongan untuk meniru kapasitas manusia dan mengotomatisasi tugas-tugas manusiawi, dengan cita-cita mencapai kecerdasan umum buatan yang dapat melakukan segala hal yang dapat dilakukan manusia. Baik Ellul maupun Paus Leo XIV menggunakan analogi Menara Babel untuk menegaskan hal ini.Filosofi ini, baginya, bertumpu pada asumsi keliru bahwa kecerdasan mesin dan kecerdasan manusia pada dasarnya serupa. Manusia belajar secara berbeda, dari sedikit contoh, lewat simulasi mental dan proses sosial coba-coba. Sementara itu, model AI unggul justru dalam pengenalan pola berskala masif tanpa pengalaman keterlibatan nyata di dunia fisik dan sosial. Karena keduanya secara mendasar berbeda, meniru satu dengan yang lain, alih-alih membuat keduanya saling melengkapi, akan menghasilkan hasil yang suboptimal. Hal tersebut sebagaimana ia ilustrasikan lewat analogi tim basket yang berjaya justru karena para pemainnya saling melengkapi keunikan masing-masing, bukan saling meniru.
Dari premis ini, Acemoglu menawarkan jalan alternatif, yaitu AI yang bersifat komplementer terhadap manusia, bukan yang meniru dan menggantikannya. Contohnya adalah teknisi yang dibantu diagnostik AI, perawat yang dibantu AI dalam membaca gejala, atau guru yang dibantu AI untuk personalisasi pengajaran.Ia juga skeptis terhadap argumen bahwa otomatisasi total tetap dapat menyejahterakan semua orang selama kebijakan redistribusi mengimbanginya. Sebuah janji yang, menurutnya, gagal dibuktikan oleh empat dekade otomatisasi digital yang justru memusatkan keuntungan di puncak dan mengeringkan pekerjaan kelas menengah, dengan taruhan yang jauh lebih besar bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada pekerjaan layak sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Karena itu, ia menuntut langkah konkret yang melampaui seruan moral semata, seperti tindakan antitrust terhadap platform platform dominan, investasi publik pada AI yang komplementer terhadap manusia, regulasi pengawasan dan senjata otonom, serta hak yang berarti bagi pekerja dan warga negara atas data yang menjadi bahan bakar sistem-sistem tersebut. Dalam debat panjang mengenai perlu tidaknya dan sejauh mana negara mengatur, perdebatan Alexander Hamilton dan Thomas Jefferson kerap dirujuk sebagai titik acuan.
Menanggapi Acemoglu: Ontologi dan Institusi Tidak Saling Meniadakan
Kritik Acemoglu perlu didudukkan secara tepat, bukan sebagai sanggahan terhadap Magnifica Humanitas, melainkan sebagai pergeseran level analisis. Pergeseran ini bergerak dari pertanyaan ontologis-teologis tentang apa itu manusia kepada pertanyaan institusional-ekonomi tentang bagaimana kekuasaan atas desain teknologi seharusnya diatur. Keduanya sesungguhnya saling membutuhkan, bukan saling meniadakan.
Pertama, tesis komplementaritas Acemoglu, bahwa AI seyogianya memperluas kapasitas manusia, bukan menirunya untuk kemudian menggantikannya. AI sesungguhnya adalah terjemahan ekonomis dari prinsip subsidiaritas yang sudah lama dianut ajaran sosial Gereja Katolik. Prinsip ini menegaskan bahwa otoritas yang lebih tinggi, dalam hal ini sistem teknis, tidak boleh mengambil alih apa yang semestinya tetap menjadi wilayah dan tanggung jawab entitas yang lebih rendah, dalam hal ini pribadi manusia yang bekerja. Argumen Acemoglu tentang keunggulan AI yang melengkapi, bukan meniru, dengan demikian memperkuat, bukan melampaui, diagnosis antropologis yang sudah tersirat dalam Magnifica Humanitas mengenai kerja sebagai wahana martabat.
Kedua, di sinilah kerangka Ellul memberi koreksi penting terhadap optimisme institusional Acemoglu. Bagi Ellul, la technique tidak pernah benar-benar tunduk pada niat baik perancangnya. Sistem teknis memiliki logika ekspansifnya sendiri yang cenderung menyerap setiap upaya pembatasan menjadi bagian dari optimalisasinya lebih lanjut. Regulasi antitrust, hak data, bahkan desain AI komplementer yang diusulkan Acemoglu tetap merupakan solusi yang bekerja di dalam sistem teknis itu sendiri. Oleh karena itu, solusi tersebut berisiko, cepat atau lambat, ditarik kembali ke dalam logika efisiensi yang sama jika tidak disertai penegasan ontologis tentang batas yang sama sekali tidak boleh dilintasi sistem apa pun, betapapun desainnya tampak sangat manusiawi. Di titik inilah kontribusi Magnifica Humanitas tidak tergantikan oleh resep institusional semata. Ensiklik ini menyediakan dasar yang tidak dapat dinegosiasikan, yaitu martabat yang berakar pada imago Dei. Hal inilah yang justru menjadikan tuntutan Acemoglu seperti antitrust, hak data, dan regulasi senjata otonom sebagai keharusan moral, bukan sekadar satu pilihan kebijakan di antara banyak pilihan lain yang dapat ditawar menurut kalkulasi untung-rugi semata. Apa yang oleh Acemoglu bersifat teknis dan praktis, oleh Paus Leo XIV justru menjadi imperatif moral yang niscaya.
Ketiga, kritik Acemoglu justru mempertajam satu titik lemah yang mudah luput dari pembacaan teologis murni, bahwa seruan moral tanpa desakan pada perubahan struktur insentif ekonomi dan konsentrasi kekuasaan korporasi berisiko berhenti pada level eksortasi. Tuntutannya akan regulasi konkret adalah pengingat bahwa martabat manusia dalam era AI tidak cukup dipertahankan lewat argumen filosofis semata, melainkan harus diterjemahkan ke dalam struktur insentif, hukum, dan tata kelola yang nyata. Sebuah titik temu yang semestinya direngkuh, bukan dihindari, oleh siapa pun yang serius hendak mempertahankan martabat manusia di hadapan mesin. Di sinilah kita bicara soal batas. Ensiklik persis akan berhenti di sini dan menjadi tugas kaum awam serta sekular yang mengupayakan advokasi dan implementasi praktisnya.
Ancaman Epistemik: AI dan Erosi Ruang Publik Demokratis
Simpul keempat menyangkut demokrasi. Sistem AI generatif, karena kemampuannya memproduksi teks, gambar, dan argumen secara masif serta personal, mengubah struktur ruang publik tempat kebenaran bersama biasanya dinegosiasikan. Ellul telah mengantisipasi hal ini lewat konsep propaganda sebagai teknik. Propaganda modern bukan lagi kebohongan kasar, melainkan banjir informasi yang membuat warga negara kehilangan kapasitas menilai secara independen. Hal ini terjadi karena volume dan kecepatan informasi melampaui kapasitas deliberasi manusia.
AI generatif mempertajam ancaman ini dalam dua arah. Pertama, ia dapat memproduksi disinformasi yang secara kualitas menyerupai wacana autentik, sehingga mempersulit warga negara membedakan sumber yang kredibel dari yang direkayasa. Kedua, dan ini lebih halus, ia berisiko menciptakan ketergantungan kognitif warga negara yang terbiasa menerima jawaban jadi dari sistem alih-alih menempuh proses penalaran dan perdebatan publik. Akibatnya, mereka perlahan kehilangan otot deliberatif yang menjadi prasyarat demokrasi yang sehat. Demokrasi bukan sekadar mekanisme pemungutan suara, melainkan budaya deliberasi bersama. Jika kapasitas deliberasi ini terkikis oleh ketergantungan pada sistem teknis, maka struktur formal demokrasi barangkali dapat bertahan, sementara substansinya mengering dari dalam.
Implikasi: Martabat Setiap Manusia yang Terdampak
Kerangka Ellul dan Magnifica Humanitas berlaku jauh melampaui satu golongan profesi tertentu. Implikasinya menyentuh setiap manusia yang pekerjaannya, penilaiannya, atau ruang publiknya kini beririsan dengan sistem AI. Mereka mulai dari buruh pabrik yang tergantikan lini otomatis, pengemudi yang terancam kendaraan otonom, jurnalis dan guru yang pekerjaan kognitifnya kini dapat ditiru sebagian oleh model bahasa, ASN yang mengerjakan pelayanan publik, hingga warga negara biasa yang sehari-hari mengonsumsi informasi dari sistem algoritmik tanpa menyadari batas antara penalarannya sendiri dan penalaran yang disodorkan kepadanya.
Di antara semua kelompok itu, merekalah yang pekerjaannya paling rentan tergantikan otomasi. Pekerja rutin, semi-terampil, maupun kognitif tingkat menengah, adalah kelompok yang paling membutuhkan perhatian kebijakan. Perhatian ini berupa dukungan pelatihan ulang keterampilan, jaring pengaman sosial pada masa transisi, dan regulasi yang mendorong desain AI yang melengkapi, bukan menyingkirkan, tenaga kerja manusia sejalan dengan tuntutan konkret yang diajukan Acemoglu.Pertanyaan yang harus diajukan karena itu bukan sekadar “bagaimana satu golongan pekerja beradaptasi dengan AI?”, melainkan pertanyaan antropologis yang lebih mendasar dan universal: bagaimana setiap manusia apa pun profesi dan kedudukannya mempertahankan dirinya sebagai subjek yang menilai, bekerja, dan berpikir secara autentik, di tengah sistem teknis yang cenderung, menurut logika internalnya sendiri, memperluas otoritasnya ke seluruh ruang kehidupan tanpa diminta? Martabat yang dipertaruhkan di sini bukan milik satu golongan pekerja, melainkan milik setiap pribadi yang diciptakan menurut citra Allah. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk menjaga batas etis penggunaan AI, agar tetap menjadi alat yang melayani manusia dan bukan sistem yang menentukan manusia, adalah tanggung jawab bersama: negara, gereja, dunia pendidikan, dan setiap warga negara yang ingin tetap menjadi subjek, bukan sekadar data yang diproses.
Penutup
Ellul mengajarkan kita untuk mencurigai klaim netralitas teknik. Magnifica Humanitas mengajarkan kita untuk menegaskan martabat yang tidak dapat direduksi menjadi fungsi. Sementara itu, kritik Acemoglu mengingatkan kita bahwa martabat itu hanya akan bertahan bila diterjemahkan ke dalam desain teknis dan tata kelola yang konkret, bukan berhenti sebagai seruan moral yang mulia namun tak berdaya. Ketiganya, dibaca bersama, menyingkap satu tugas etis zaman ini yang berlapis. Tugas tersebut adalah mempertahankan dasar ontologis martabat manusia, mencurigai klaim netralitas setiap sistem teknis sekomplementer apa pun tampaknya, dan sekaligus memperjuangkan struktur insentif, regulasi, serta hak yang nyata. Langkah ini penting agar akal imitasi, betapapun canggih kemampuannya meniru penalaran manusia, tidak pernah diizinkan menggantikan tempat manusia sebagai subjek yang menilai, bekerja, dan berpartisipasi dalam kebenaran bersama. Ini bukan tugas satu profesi, satu institusi, atau satu disiplin ilmu semata, melainkan tugas peradaban. Akhirnya, relevansi dan signifikansi Gereja serta agama tidak lagi diukur dengan statistik belaka, melainkan dari kesanggupan menjalankan peran kenabian dan menangkap tanda-tanda zaman, sebagaimana dipraktikkan Paus Leo XIV terhadap gejala, dampak, dan implikasi AI.
26 Juli 2026
Koster Gereja Kranggan