Dalam perjalanan menepi, kami harus bersyukur untuk sebuah “kecelakaan” kecil. Pesawat yang akan kami tumpangi kembali ke Jakarta mengalami kerusakan teknis dan membuat perjalanan kami tertunda 24 jam. Kami menggerutu dan gundah, hingga tersadar kalau kami dituntun untuk mengunjungi Hagia Sophia dan warisan leluhur di Istanbul.
Hagia Sophia sedang direnovasi. Masjid di kota Istanbul, dahulu Konstantinopel, itu menyimpan begitu banyak kisah dan makna. Juga barangkali kegetiran sejarah. Hagia Sophia atau Hikmat Ilahi awalnya Gereja Kristen Orthodoks, yang didirikan Kaisar Justinianus di tahun 537 M. Selama 9 abad Hagia Sophia menjadi simbol kebesaran Romawi hingga jatuh ke tangan Sultan Mehmed II, dan hingga awal abad ke-20 menjadi salah satu simbol penting Dinasti Ottoman.
Hagia Sophia berdiri di kompleks Hippodrome Konstantinopel, stadion raksasa berkapasitas 100 ribu orang, kini dinamai Sultanahmet Square. Di sini tertanam jejak sejarah yang amat panjang dan penting. Hippodrome ini semacam Agora Yunani, tempat warga berkumpul, berbincang, dan mencari hiburan. Kebutuhan akan ruang publik ternyata setua usia manusia sebagai makhluk sosial. Yang sakral dan yang profan berkelindan. Ikon-ikon Yesus, Maria, dan Kaisar berdampingan dengan kaligrafi nama Allah hingga Imam Husein bin Ali.
Obelisk of Theodosius, atau monumen agung berhuruf hieroglif ini berdiri abad ke-4 SM ketika Kaisar Theodosius memindahkannya dari Mesir. Ia simbol kejayaan Mesir yang bahkan berdiri sejak abad ke-14 SM, masa Firaun Thutmose III. Sebuah realitas bahwa tanda kejayaan, yang simbolik, itu lekat dengan kebutuhan akan legitimasi kekuasaan yang diwarisi. Ini bertaut dengan ucapan masyur Justinianus:”Salomo, akhirnya aku melampauimu!”
Di kawasan ini juga terdapat Basilica Cistern (Yerebatan Sarnici), yang terletak di bawah tanah. Bangunan megah berpilar gagah ini dibangun sejak abad 3-4 M dan diselesaikan di masa Kaisar Justinianus. Bangunan ini menopang sistem drainase dan ketersediaan air untuk kota. Maknanya, kita kadang abai pada yang tersembunyi, di bawah permukaan, dingin dan gelap – dan fokus pada yang tampak, di atas panggung, dan gemerlap.
Di seberang Hagia Sophia berdiri Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque) yang gagah dan indah. Masjid ini didirikan abad ke-17. Sangat menarik, Sultan Ahmed tidak menghancurkan Hagia Sophia tetapi mendirikan masjid sebagai pertanda duduk berdampingan dan dialog. Sebuah penegasan bahwa ia mewarisi kota bersejarah ini.
Mesir runtuh, Aleksandria runtuh, Romawi dan Byzantium runtuh, dan Ottoman pun jatuh. Semua akan datang dan pergi silih berganti, tiada yang abadi. Namun adakah yang tetap? Instanbul adalah bukti historis bahwa sebuah kota akan abadi jika tak melulu bicara masa depan, melainkan sanggup untuk menghadirkan masa lalunya.
Di sini saya teringat Max Weber yang menyebut ciri manusia modern adalah disenchantment (Entzauberung), yakni kehilangan ikatan dan keterpesonaan pada yang gaib dan spiritual, digusur sains dan rasionalitas. Semua seolah bisa dihitung, diukur, dan diprediksi.
Namun filsuf Charles Taylor mengingatkan bahwa secara kodrati manusia adalah makhluk yang rindu dan selalu mencari makna (self interpreting animal). Mungkin saja ia kehilangan daya tarik pada pesona yang gaib atau Tuhan, tetapi manusia mencarinya pada hal-hal baru. Upaya manusia modern mengagungkan imanensi yang berpusat pada diri tak pernah utuh dan tuntas. Selalu ada patahan dan retakan. Kita terus dihantui tarikan dari yang transenden, kekuatan luar yang menarik kita untuk takjub dan dipercayai. Barangkali itu robotik, media sosial, K Pop, atau artificial intelligence.
Jejak sejarah 3500 tahun yang diwarisi, dirawat, dan maknanya begitu dalam diungkap Istanbul mengingatkan saya pada Jakarta. Kota yang berulang tahun ke-499 dan akan segera berusia 5 abad. Di tengah kompleksitasnya, apa yang sebenarnya tersisa?
Di sini saya ingin menafsir apa yang ada di kepala dan sedang dikerjakan Pak Pram dan Bang Doel. Mereka mewarisi Jakarta sebagai kota yang punya sejarah panjang, tentang kejayaan dan kejatuhan. Kisah pilu kolonialisme dan hasrat melepaskan diri dari hantu inferioritas. Kota yang masih gelisah memburu identitas, dan sekarang hendak menegaskan dirinya sebagai kota global.
Istanbul menunjukkan bahwa kota global bukan hanya perkara gedung tinggi, investasi, dan infrastruktur. Melainkan kemampuan mengubah sejarah menjadi identitas bersama. Istanbul mengajarkan kota global yang besar bukan kota yang melupakan masa lalunya, melainkan kota yang mampu membuat masa lalunya terus berbicara kepada masa depan. Ada paradoks: justru masa lalu itulah yang terus aktual.
Di titik itu, Sultanahmet bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah laboratorium hidup tentang bagaimana agama, politik, budaya, perdagangan, dan identitas bernegosiasi selama lebih dari tiga milenium. Jakarta bisa belajar dari Istanbul. Kepedulian, keterbukaan, sikap apa adanya, dan kerendahan hati Pak Pram dan Bang Doel menjadi modal kuat.
Sebagaimana Istanbul, Jakarta bisa menjadi jembatan peradaban. Tanpa perlu dikotomi Barat vs Timur, keduanya disintesakan. Warisan sejarah keduanya diringkus dalam konsep yang inklusif, menjadi tegangan kreatif yang membebaskan.
Kota Global dengan demikian bukan sekadar jargon. Berbagai eksposisi kreatif tentang perayaan keagamaan sebagai fakta pluralitas yang terberi, keberpihakan pada budaya Betawi, kesediaan untuk tak terpesona pada proyek pencakar langit dan mercu suar, revitalisasi Kota Tua sebagai landmark perjumpaan masa lalu dan masa depan, serta komitmen menghadirkan yang publik: taman kota, transportasi, pendidikan, dan kesehatan. Bagi saya itu sudah amat melegakan tanpa perlu terjebak memburu indeks. Indeks naik alhamdulillah, warga bersuka cita adalah berkah.
Tentu saja ini baru awal, mungkin sangat awal bagi sebuah proyek panjang. Namun toh kita tetap pantas bersyukur dan menaruh harapan. Kiranya kerja-kerja kolektif yang dilambari keriaan dan kerelaan terus dipupuk dan diperkuat. Kota ini harus menjadi tempat tanpa sekat: bagi konglomerat, pialang saham, juragan batu bara, tukang batu, seniman, influencer, pegawai negeri, buruh, pedagang kaki lima, dan driver ojol. Perayaan ulang tahun adalah peneguhan dan undangan, Jakarta milik semua.
Selamat ulang tahun Jakarta! Makin digdaya dan didamba.
Jakarta, 20 Juni 2026
Yustinus Prastowo
(OB Balaikota)