Pak Isa adalah sahabat baik, sangat baik. Di Kemenkeu dulu, beliau dikenal sebagai palang pintu integritas. Sulit sekali melewati meja Pak Isa, sebelum semuanya diteliti. Alumnus Matematika ITB ini memang birokrat sejati. Banyak yang kagum, ada yang mengeluh, namun semuanya hormat menjura.
Dua hari lalu Pak Isa Rachmatarwata, sahabat saya yang pernah jadi Dirjen Anggaran Kemenkeu ini, divonis bersalah 1,5 tahun oleh pengadilan tipikor. Majelis Hakim yakin Pak Isa tak sepeser pun menikmati hasil korupsi. Namun ia dianggap salah karena memperkaya pihak lain di kasus Jiwasraya. Ya, atas kebijakan 17 tahun lalu yang masih sangat bisa diperdebatkan.
Soal materi, saya serahkan ke pengadilan. Semoga Pak Isa memperoleh keadilan di tahapan berikutnya. Hati saya masih getir hingga kini. Bagaimana mungkin ia yang bekerja penuh integritas justru menerima perlakuan dan hukuman seperti ini? Hidup memang tak adil, tapi kita jangan mengimbuhinya dengan sikap acuh tak acuh.
Siapa pun politisi dan birokrat yang pernah berhubungan dengan Pak Isa pasti mengakui kegigihannya menjaga keuangan negara. Sayang ia bukan Tom Lembong, Bu Ira, atau Nadiem yang bisa mendapat atensi luas. Ia tetaplah teknokrat yang bekerja dalam sunyi tanpa pamrih, termasuk ketika di suatu siang diambil paksa untuk diperiksa, dijebloskan berbulan-bulan di tahanan, diperiksa, dan diadili. Ia memilih diam, membela diri dalam sepi.
Di tengah defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92%, mungkin beberapa dari kita akan teringat Pak Isa dan mensyukuri kontribusinya. Saya hanya warga biasa yang cuma bisa mengajak para sahabat berdoa untuk kesehatan fisik dan mentalnya. Selebihnya, kiranya kuasa Tuhan yang akan melindungi dan memberinya keadilan.