Saya meyakini tak pernah ada kebetulan dalam perbuatan baik. Saya tak kenal Bang Coki Tobing, orang di video yang saya bagikan ini. Suatu ketika ia mengontak saya, memperkenalkan diri sebagai teman Bang Chico Hakim, sahabat saya. Lalu ia jelaskan keperluannya: mengurus barang yang tertahan di Bea Cukai.
Dalam hati saya pengin langsung merespon kalau saya sudah tidak di Kemenkeu, supaya tak direpotkan. Tapi niat itu urung. Saya minta penjelasan lebih lanjut apa yang terjadi dan saya dengarkan dengan saksama.
Ternyata bang Coki membeli sparepart kaki palsu dari Vietnam. Ia sengaja beli dari sana karena harganya murah, sehingga bisa membuat lebih banyak kaki palsu untuk dibagikan pada yang membutuhkan. Saya terhenyak. Barang itu tertahan karena masuk kategori lartas dari kementerian teknis, maka mesti diurus izinnya. Di sini saya deja vu, saat Kantor BC banyak dikomplain dan dicaci maki, padahal sejatinya larangan, pembatasan, dan perizinan itu dari kementerian teknis, bukan BC atau Kemenkeu. Bagian nasib yang mesti diterima dengan suka cita.
Segera saya kontak sahabat saya, Pak Gatot Kepala KPBC Soetta. Pejabat yang murah senyum dan sangat baik. Saya minta barang tersebut jangan dijadikan barang milik negara dan dilelang dulu, karena pemilik akan mengurus izin. Petugas BC pun membimbing prosedur apa yang mesti dijalani.
Lalu Bang Coki pun berproses. Kendala pertama, rekomendasi Dinas Sosial. Ada masalah antara alamat di akta dan alamat kantor: Kota Bekasi atau Kabupaten Bekasi. Untung ada kenalan di Bekasi, sehingga bisa dibantu meski awalnya agak ribet. Tak berhenti di situ, ternyata perlu rekomendasi Kemenkes karena ini bagian dari alkes. Saya beruntung punya sahabat baik di sana, Bu Rizka Andalucia, Dirjen Farmalkes. Beliau sangat membantu. Bahkan sejak awal menawarkan diri untuk membimbing dan menyelesaikan urusan di Kemenkes.
Setelah semua berproses, akhirnya seluruh persyaratan yang dibutuhkan lengkap. Bang Coki lantas kembali ke Kantor BC untuk mengurus barang yang akhirnya bisa dikeluarkan. Part kaki palsu itu akhirnya dapat melengkapi kaki palsu dan tangan palsu yang akan dibagikan cuma2 ke warga yang membutuhkan.
Saya baru sadar, perlengkapan ini amat dibutuhkan dan sangat membantu. Bang Coki dan para aktivis sosial adalah pahlawan bagi mereka yang membutuhkan. Saya merenung: negara mesti hadir lebih kuat dan dekat. Jika ada hal kecil yang sekiranya bisa direlaksasi, mungkin baik kalau dipermudah.
Ini mengingatkan saya pada cerita para aktivis sosial di Jogja, saat saya menghadiri simposium komunitas penyandang disabilitas. Banyak yang kesulitan mengimpor peralatan disabilitas. Ada yang gagal mendapatkan perlakuan khusus. Untung waktu itu saya ajak teman2 BC di Jogja dan Jateng, agar ikut mendengarkan dan mereka siap membantu di lapangan.
Salah satu peserta bahkan berkisah tentang perjuangannya membuat kaki dan tangan palsu hasil riset bertahun-tahun, didukung universitas bagus, namun gagal mendapatkan SNI dalam waktu cepat.
Saya beruntung mengenal Bang Coki dan para pegiat sosial yang luar biasa. Saya bersyukur pernah bekerja dan bersahabat dengan teman2 BC dan Kemenkeu, yang banyak membantu di lapangan, dengan segala suka dukanya. Juga banyak sahabat di instansi lain, baik Pemda maupun kementerian.
Namun bagaimana dengan mereka yang tak punya akses dan relasi? Ini PR besar bagaimana kemudahan dan fasilitasi untuk inisiatif2 baik perlu terus diupayakan. Presiden Prabowo dalam satu kesempatan tampak geram dengan regulasi dan tata kelola ekspor impor yang dianggap rumit, berbelit, dan mempersulit. Beliau ingin sungguh2 mengubah dan mempermudah. Perintahnya tegas dan lugas.
Jika saat ini hasilnya belum terlalu terasakan, barangkali ini saat yang tepat untuk meninjau kembali, sejauh mana proses dan progres terjadi. Termasuk insentif yang 10 tahun lalu ingin diberikan terhadap alkes dan obat2an, layak dituntaskan.
Kembali ke awal, saya meyakini kebaikan itu bukan kebetulan. Ada dukungan semesta yang menggerakkan. Sekelumit cerita yang dibagikan pagi ini pun rasanya bagian kecil dari kebaikan semesta yang boleh kita cecap dan bagikan.
Semoga Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi orang2 baik. Melalui tangan dan karya mereka, kasih Tuhan bekerja. Semoga kisah2 sederhana ini terus menyemangati kita untuk menjadi alatNya dan menjahit asa bagi saudara yang butuh pertolongan kita. Saya akhiri dengan diam, tercekat dan terharu. Inilah sejatinya Indonesiaku.
Jakarta, 26 Nov 2025
Salam hangat
YP