BAPAK

Bapak saya pandai menyembunyikan sakit. Ketika belakangan kondisinya menurun karena susah makan, saya ajak medical check up ke RS Panti Rapih. Ternyata ada penurunan fungsi ginjal.

Selasa sore akhirnya mau dibawa ke RS. Rabu pagi saya video call, janji mau pulang Sabtu. Rabu sore Bapak saya cuci darah dg lancar, tanpa mengeluh. Sore itu pula bersamaan, kendaraan istri saya di Tol Jagorawi terseruduk truk container yang sopirnya ngantuk. Terjadi kecelakaan beruntun.

Kamis pagi, melalui sepupu saya, Bapak bilang kalau menunggu Pras sampai Sabtu kayaknya nggak kuat. Maka siang saya segera ke Jogja. Ketika boarding, Mas Uceng kontak saya. Kami memang bbrp kali janjian. Dia minta saya memberi kuliah umum di kelas Magister Ilmu Hukum UGM. Lalu saya iyakan, mumpung di Jogja.

Kamis sore saya bertemu Bapak. Meski lemah, ia tampak ceria melihat saya pulang. Lalu kami ngobrol, saya menanyakan sakit yang dikeluhkan. Bapak seolah ingin mengatakan kalau sakit itu tak tertahankan. Tapi ia tak mengeluh.

Lalu saya suapi putih telur dan air hangat. Meski saya tahu kondisinya payah dan mual hebat, Bapak berusaha menyenangkan saya.

Setelah itu saya bicara dengan Ibu yang juga menjaga Bapak. Kata Ibu, ke setiap tamu yang menjenguk, Bapak sdh bilang kalau tinggal nunggu Pras. Maklum saya anak satu2nya yang hidup, setelah kakak perempuan saya meninggal karena kanker hampir 2 tahun lalu.

Bapak ternyata sdh berkali-kali bilang siap jika dipanggil Tuhan. Minta semua sabar dan rukun. Malam itu, tiap dia terjaga dari tidur yang dipaksakan melawan sakit, Bapak selalu mempersilakan saya istirahat, pulang. Itu kebiasaan sejak lama ketika melihat saya begadang hingga larut malam.

Karena kondisi Bapak tampak stabil dan saya berpikir ada efek cuci darah yang bikin lemah, saya minta izin Jumat pagi ke UGM utk mengajar. Pagi2 saya berangkat dengan perasaan campur aduk. Namun saya punya komitmen yang sama pentingnya. Dengan berpikir positif, saya berdoa sepanjang jalan. Di tengah perjalanan, saya sempat bimbang dan berhenti. Namun saya lanjut ketika saya membayangkan pemikiran John Rawls harus saya bagikan ke mahasiswa. Saya punya keyakinan materi kuliah ini penting buat publik.

Akhirnya saya mengisi kelas. Saya berusaha fokus dan menikmati perkuliahan. Satu demi satu materi saya sampaikan, sambil sesekali saya lirik layar HP. Saya tahu ada beberapa WA masuk, juga miscall. Saya yakin ada yang penting, tapi coba saya abaikan. Hingga dorongan utk membaca pesan begitu kuat. Pesan pendek dari istri saya: Bapak sudah dipundhut Gusti. Saya tercekat. Lalu saya berdiri dan sampaikan ke mahasiswa kalau Bapak saya baru saja meninggal. Mereka terperangah. Mas Uceng bergegas ke depan, minta saya mengakhiri kuliah.

Saya memilih melanjutkan beberapa poin penting lagi hingga tuntas beberapa menit kemudian. Saya mohon maaf tak bisa melanjutkan tanya jawab. Mas Uceng menutup kelas dengan ajakan berdoa. Momen yang mengharukan.

Saya diantar Mas Uceng bergegas ke mobil, lalu langsung ke Wonosari. Di perjalanan perasaan campur aduk. Antara sedih dan kecewa, tapi terus bergumul mencari makna kejadian ini. Bapak ternyata hanya ingin berjumpa terakhir kali dan saya paham kondisinya. Itu saja. Lalu ia pergi dan tak ingin saya ada di sebelahnya, menangis, dan bersedia. Orang Jawa bilang nglimpekke atau mencari lengah.

Di perjalanan, saya menerima telpun dari teman wartawan yang sedang ujian kompetensi di Dewan Pers. Saya melayani percakapan dengan serius. Salah satu syarat kelulusan adalah mewawancarai narasumber di depan penguji. Saya senang bisa membantu.

Hingga saya jumpai Bapak di kamar jenazah. Ia tampak seperti orang tidur sangat tenang, pulas. Wajahnya bersih, sedikit senyum. Maklum, Bapak saya sepanjang hidup adalah humoris tanpa lawan. Waktu muda selain jadi guru, pernah main ketoprak, jadi dalang, pintar melukis, karawitan, juga olahragawan profesional. Bapak mantan atlet panahan dan pernah jadi Ketua Perpani Gunungkidul.

Menyaksikan para pelayat yang hadir berbondong tanpa henti, saya bangga dengan Bapak saya. Ia orang baik, berjiwa sosial tinggi. Sejak muda ia punya karunia penyembuh. Bapak bisa memijat untuk kesembuhan. Banyak sekali orang yang sudah ditolong. Dan satu prinsipnya: tak boleh menerima imbalan uang. Ia sadar hanya perantara kebaikan Allah.

Seminggu sebelum sakit, Bapak masih sempat menyerahkan bantuan sosial dan membagikan kaos bergambar Paus Fransiskus. Baru saya sadari, semasa hidup dan saat meninggal, wajah Bapak memancarkan aura mirip Paus Fransiskus. Ada keteduhan dan ketulusan yang memancar bersamaan dengan selera humor yang tinggi.

Saya kehilangan. Tapi lebih dari itu, saya bangga dan bersyukur. Saya baru menyadari punya ayah yang begitu hebat.

Selamat jalan, Pak….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *